Saling memanusiakan, menghormati/menghargai harkat dan martabat kemanusiaan seseorang sebagai mahluk ciptaan 4JJ1 tanpa membeda-bedakan, siapa saja orangnya harus patuh dan taat terhadap norma adat/hukum yang berlaku.

TUJUH AYAT DAN FAEDAHNYA


Di dalam Al-Quran terdapat tujuh ayat, yang barangsiapa membacanya, maka tiada sesuatu makhluk pun yang dapat menimpakan bahaya terhadap dirinya dengan izin Allah. (Dinukil dari Ka,bul Ahbar).

Untuk itu amat amatlah berfaedah bila ketujuh ayat ini dijadikan amalan setiap hari, terutama setiap selesai shalat fardhu, guna membentengi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Ayat Pertama:

قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلانَا وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ

Qul lan yusiibana illa ma kataballahu lana huwa maulaanaa waalallahi falyatawakkalil mu-minuun.

Artinya: Katakanlah: “Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanyalah kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.” (At-Taubah [9]: 51).

Ayat Kedua:

وَإِنْ يَمْسَسْكَ اللَّهُ بِضُرٍّ فَلا كَاشِفَ لَهُ إِلا هُوَ وَإِنْ يُرِدْكَ بِخَيْرٍ فَلا رَادَّ لِفَضْلِهِ يُصِيبُ بِهِ مَنْ يَشَاءُ مِنْ عِبَادِهِ وَهُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Wa iy yamsaskallahu bidhurring falaa kaasyifa lahuu illa huw wa iy yuridka bikhairing falaa raadda lifadhlih yusiibu bihii may yashaa-u min ‘ibaadih wahuwal ghafuurur rahiim.

Artinya: Jika Allah menimpakan sesuatu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang dapat menghilangkannya kecuali Dia. Dan jika Allah menghendaki kebaikan bagi kamu, maka tak ada yang dapat menolak karunia-Nya. Dia memberikan kebaikan itu kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Yunus [10]: 107).

Ayat Ketiga:

وَمَا مِنْ دَابَّةٍ فِي الأرْضِ إِلا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُبِينٍ

Wama ming dabbating fil al-ardhi illa ‘alallahi rizquha waya’lamu mustaqarraha wamustauda ‘ahaa kullung fii kitaabin mubiin.

Artinya: Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya, dan Dia mengetahui tempat berdiam binatang itu dan tempat penyimpanannya. Semuanya tertulis dalam kitab yang nyata (Lohmahfuz). (Huud [11]: 6).

Ayat Keempat:

إِنِّي تَوَكَّلْتُ عَلَى اللَّهِ رَبِّي وَرَبِّكُمْ مَا مِنْ دَابَّةٍ إِلا هُوَ آخِذٌ بِنَاصِيَتِهَا إِنَّ رَبِّي عَلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِي

Innii tawakkaltu ‘alallahi rabbii warabbikum ma ming dabbatin illa huwa aakhidzum binasiyatiha inna rabbii ‘ala shiratin mustaqiim.

Artinya: Sesungguhnya aku bertawakal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. Tidak ada suatu binatang melata pun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus.” (Huud [11]: 56).

Ayat Kelima:

وَكَأَيِّنْ مِنْ دَابَّةٍ لا تَحْمِلُ رِزْقَهَا اللَّهُ يَرْزُقُهَا وَإِيَّاكُمْ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Wakaayyim min dabbating la tahmilu rizqahaa Allahu yarzuquhaa wa-iyyakum wahuwassamii’ul ‘aliim.

Artinya: Dan berapa banyak binatang yang tidak (dapat) membawa (mengurus) rezekinya sendiri. Allah-lah yang memberi rezeki kepadanya dan kepadamu dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (Al-Ankabut [29]: 60).

Ayat Keenam:

مَا يَفْتَحِ اللَّهُ لِلنَّاسِ مِنْ رَحْمَةٍ فَلا مُمْسِكَ لَهَا وَمَا يُمْسِكْ فَلا مُرْسِلَ لَهُ مِنْ بَعْدِهِ وَهُوَ الْعَزِيزُ

الْحَكِيمُ

Maa yaftahillahu linnasi mirrahmating falaa mumsika lahaa wamaa yumsik falaa mursila lahuu min ba’dihii wahuwa ‘aziizu hakiim.

Artinya: “Apa saja yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa rahmat, maka tidak ada seorang pun yang dapat menahannya; dan apa saja yang ditahan oleh Allah maka tidak seorang pun yang sanggup untuk melepaskannya sesudah itu. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (Faathir [35]: 2).

Ayat Ketujuh:

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُون.

Wala-ing saaltahum man khalaqas ssamawati wal-arda layaquulunnallah qul afaraaitum maa tad’uuna ming duunillahi in araadaniyallahu bidhurrin hal hunna kaasyifaatu dhurrihii au araadanii birahmatin hal hunna mumsikaatu rahmatih qul hasbiyallahu ‘alahi yatawakkalul mutawakkiluun.

Artinya: Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: “Siapakah yang menciptakan langit dan bumi?”, niscaya mereka menjawab: “Allah”. Katakanlah: “Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudaratan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudaratan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?. Katakanlah: “Cukuplah Allah bagiku”. Kepada-Nya lah bertawakal orang-orang yang berserah diri. (Az-Zumar [39]: 38).

Delapan Kunci Rezeki Lancar


uangTernyata mencari rezeki adalah salah satu bentuk ibadah. Setiap langkah yang kita ayunkan dalam mengais rezeki pada hakikatnya adalah bunga rampai dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah swt.

Beberapa hadits yang berkaitan dengan mencari rezeki:

  • Sesungguhnya Allah suka kepada hamba yang berkarya dan terampil. Barangsiapa bersusah payah mencari nafkah untuk keluarganya maka dia serupa dengan seorang mujahid di jalan Allah Azza wajallah. (HR. Ahmad).

  • Barangsiapa pada malam hari merasakan kelelahan dari upaya keterampilan kedua tangannya pada siang hari maka pada malam hari dia diampuni oleh Allah. (HR. Ahmad).

  • Sesungguhnya di antara dosa-dosa yang tidak bisa dihapus (ditebus) dengan pahala shalat, sedekah atau haji namun hanya dapat ditebus dengan kesusah payahan dalam mencari nafkah. (HR. Athabrani).

Jadi, sepantasnyalah kita mencari dan berusaha untuk mencari rezeki bukan semata-mata mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya demi kesenangan dunia semata. Tetapi yang terpenting dari dalam mencari rezeki kita harus menanamkan kedalam diri kita bahwa ini adalah salah satu bentuk ibadah dalam rangka mendekatkan diri kepada sang pemberi rezeki.

Rezeki ibarat air yang melimpah ruah. Hanya saja seringkali mengendap tak berjalan sebab pintu kran yang tersumbat. Kran tersebut hanya bisa dibuka dengan kunci ’sakti’ yang memang diperuntukkan untuknya.

Adapun delapan kunci rezeki pembuka kran tersebut adalah:

1.  Bertaubatlah dan perbanyak istighfar.

Adakalanya pintu rezeki terhalang lantaran kita pernah menorehkan noda hitam dalam lembaran hidup kita. Mungkin misalnya, tindak tanduk kita yang kita lakoni mendzalimi sesama. Atau bahkan kita pernah lalai lantas melewatkan kewajiban sebagai seorang abdi Allah swt. Oleh karena itu biasakanlah beristighfar. Segera kembali kejalan-Nya. Ketahuilah bahwasanya taubat dan istighfar adalah kunci rezeki.

2.  Bersilaturahmi.

Pintu rezeki biasanya terbuka lewat silaturhami dengan sahabat-sahabat. Kalaupun rezeki tidak datang seketika itu juga barangkali setidaknya relasi mulai terjalin. Bisa jadi dengan seizin-Nya, rezeki itu datang karena komunikasi dengan relasi. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. Ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin dilapangkan rezeki dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung tali silaturahmi”. (HR. Bukhari).

3.  Selalu berusaha.

Meskipun Allah telah menetapkan dan membagi rezeki hamba-Nya. Tetapi Dia juga menyerukan untuk mencarinya. Bukan cuma berdiam dan menggantungkan diri dan doa.

4.  Gemar berinfak

Berbagilah meski hanya sedikit. Allah swt menjanjikan akan memudahkan jalan rezeki bagi mereka yang gemar bersedekah dan berinfak.

Tidak ada istilah jatuh melarat lantaran sering bersedekah. Justru malah sebaliknya, Allah swt akan melipatgandakan dan mengganti dengan yang serupa atau bahkan jauh lebih baik. “Dan barang apa saja yang kamu nafkahkan. Maka Allah akan menggantinya dan Dia-lah pemberi rezeki yang sebaik-baiknya.” (QS. Saba : 34).

5.   Santuni Kaum Dhuafa

Menyantuni kaum dhuafa bisa membuka pintu rezeki kita yang terhalang. Salah satu sebab ialah doa kaum dhuafa sangatlah manjur. Tindakan baik yang kita tujukan kepada mereka akan berbalas doa yang terijabahi.

Diriwayatkan dari Abu Darda’ ra. Ia berkata, “Saya mendengar Rasulullah saw bersabda: “Carilah aku melalui orang-orang lemah kalian, karena sesunguhnya kalian akan diberi rezeki dan ditolong sebab (berkat) orang-orang dhuafa.” (HR. Turmudzi, Nasai dan Abu Daud).

6.  Merantau bila perlu.

Pergilah ke negeri orang. Barangkali pintu rezeki yang tertutup di daerah sendiri akan terbuka di tempat yang lain. Disamping itu pula merantau bentuk dari usaha kita dalam mencari rezeki. Oleh karena itulah jangan terburu-buru berputus asa dan berkecil hati jika rezeki belum ketemu jodohnya.

Gagal di langkah pertama, masih banyak langkah-langkah lain yang masih tersisa. Bumi Allah sangatlah luas demikianlah juga dengan rezeki-Nya.

“Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak.” (QS. An-Nisa : 100).

7.  Tawakkal dan berdoa.

Tugas kita sebagai manusia hanya berusaha. Persoalan hasil adalah urusan Allah swt. Doa pun menjadikan rezeki yang kita dapat syarat dengan berkah. Sebab segala jerih payah yang telah kita upayakan tak terlepas dari petunjuk dan bimbingan Allah swt. Doa memberikan semangat dan keyakinan lebih bahwasahnya hanya Allah swt sang pemberi rezeki. Sebesar tawakkal dan kepasrahan kita dalam berdoa maka sebesar itu pulalah rezeki yang bakal kita peroleh. “Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaaq : 3).

8.  Senantiasa bersyukur.

Hanya dengan bersyukur, Allah swt akan membuka pintu rezeki kita. Berapa pun rezeki yang kita dapatkan, poleslah selalu dengan berkah syukur.Orang yang pandai bersyukur akan selalu merasa puas dengan berapa pun hasil yang di dapat. Begitu juga tidak mudah berkeluh kesah tatkala rezeki kurang bersahabat. Oleh karena itu, senantiasalah bersyukur. Niscaya Allah SWT akan mempermudah jalan rezeki dan menganak pinakkannya.

JUJUR


1.  Jujur kontak dengan Allah; lentur kontak dengan sesama manusia.
2.  Antara obyek intern dan ekstern = kedalam jujur, keluar lentur.
3.  Utamakan perbaikan diri terlebih dahulu, baru membias keluar.
4.  Dahulukan memimpin diri sendiri, sebelum memimpin yang lain.
5.  Jujur dalam proses perbuatan; disebut konsekwen = tanda jiwa pahlawan.
6.  Jujur dalam dialog; disebut sportip = tanda orang yang tahu diri.
7.  Berpikir bisa jujur, jika otaknya sehat = dituntun pengertian.
8.  Jiwa bisa hidup, jika berhati bersih = suci - sejati.
9.  Sikap yang jujur, tandanya lugu dan utuh.

10.  Penampilan yang jujur, tandanya bergaya polos.
11.  Hukum yang jujur, jika tindakannya adil.
12.  Hidup yang jujur adalah; nrimo apa adanya = modal yang sangat berharga.
13.  Kejujuran jalurnya vertikal, kontak dengan Allah.
14.  Jalur kejujuran adalah tanda kemukjizatan Allah.
15.  Jujur diri adalah JURI; mampu mewasiti ulah pribadi = ngaji diri.
16.  Pengakuan dosa akan diterima Allah, jika jujur mengutarakannya.
17.  Jika menghadap hidup tidak jujur; sama juga menipu Tuhan; mana bisa!
18.  Beban hidup akan ringan, jika kejujuran menyertaimu.
19.  Hakekatnya menghadap Tuhan hanya ada satu kata, ialah: YA, dengan jujur.
20.  Kejujuran mencetuskan pengakuan; itulah isi Atma = syahadat.

21.  Awali penyaksian dengan sportip, disertai pengakuan dengan jujur.
22.  Orang yang tidak jujur biasanya cari pelarian = cari alasan.
23.  Lari dari kenyataan akan memperpanjang perkara = tidak konsekwen.
24.  Laut dengan gelombangnya; manusia dengan salahnya; Tuhan dengan Mahanya.
25.  Manusia tidak kebagian benar, sebab tengah diproses terus sampai matang.
26.  Terkecuali umat yang beserta Tuhan, bisa disebut benar = manunggal.
27.  Maklum jika manusia suka terbentur salah atau kekeliruan, tetapi jika tidak jujur mengakuinya; itulah yang         sebenar-benarnya salah.
28.  Kejujuran merupakan inti kepercayaan.
29.  Hanya kepada orang jujurlah adanya kepercayaan.
30.  Berarti percaya kepada Tuhan pun, landasannya kejujuran.

31.  Hidup jujur akan memperluas wawasan, sampai tiada batasnya.
32.  Hidup jujur, itulah jalur yang lurus = contoh Nabi Muhammad SAW.
33.  Mustahil menemukan perbaikan; jika tak terbentur salah terlebih dahulu.
34.  Salah akan menjadi bahan benar, jika jujur mengakuinya.
35.  Kebenaran lahir; disaat ada perbaikan yang salah; itu namanya SADAR.
36.  Dengan modal jujur, perbuatan salah akan diproses menjadi benar.
37.  Selalu bebenah diri dengan jujur; itulah utamanya maksud hidup.
38.  Mengingat hidup itu terus berproses, sampai kita matang betul.
39.  Manusia matang; tentu laris disetiap pertemuan; karena dibutuhkan.
40.  Kita tengah diproses karma, dan terproses takdir; mau tidak mau kita harus memperoses diri dengan jujur, demi perbaikan nasib.

41.  Hidup itu penuh dengan salah, dan benar di tangan Allah.
42.  Suksesnya proses, hanyalah dengan kejujuran.
43.  Ukuran dagang; ada diantara untung dan rugi.
44.  Ukuran perang; ada diantara menang dan kalah.
45.  Ukuran hidup; ada diantara sudah matang, atau masih mentah.
46.  Ukuran matang; ada dikancah diproses karma dan terproses takdir.
47.  Ukuran proses; ada dilingkaran: benar atau salah.
48.  Ukuran jujur; ada diantara : YA, atau tidak mengakuinya.
49.  Jujur adalah jembatan menuju kebenaran.
50.  Hilang kepercayaan, karena ketidakjujuran.

Dikutip dari tulisan: Abah Agung

Menatap Langit Tak Akan Menghilangkan Dahagamu


langit-mendung

Cintaku, cucu-cucuku. Kemari, lihatlah cakrawala langit. Tahukah kau darimana datangnya hujan? Air yang terdapat pada bumi diserap oleh langit. Ia terkumpul menjadi awan dan kemudian jatuh kembali ke bumi dalam bentuk hujan. Bagaimanapun, proses ini tidak terjadi setiap waktu. Kau tidak bisa bergantung pada hujan. Contohnya, kau selalu membutuhkan air untuk minum, betulkah? Tapi bisakah kau bergantung dari air hujan yang turun dari langit? Akankah menatap langit dapat menghilangkan dahagamu? Tidak bisa, tidak selamanya hujan turun tatkala dahaga mendatangimu. Kau tidak mungkin berharap air turun dari langit ketika kau menginginkannya. Jika kau berdiri di sana berharap hujan akan turun, kau tak akan bisa menghilangkan dahagamu. Malahan kau akan berakhir dengan berkeliling bersama kotoranmu dan kau akan mati.

Sekarang lihatlah tanah ini cucu-cucuku. Selalu tersedia air di dalamnya. Jika kau gali tanahnya dan kemudian menemukan mata air, kau bisa meminum sepuasnya, sesuka hatimu. Untuk itu, jangan berharap dari langit. Kau harus berusaha dan menggali jauh ke dalam tanah untuk mendapatkan airmu.

Seperti itulah, cucu-cucuku, kau tak akan bisa menghilangkan dahaga jiwamu hanya dengan menatap langit memohon kepada Allah Swt. sembari berkata, “Allah ada di sana. Dia yang akan menyediakan.” Allah ada dan Dia akan menolong pada saat yang tepat, tapi sebelumnya kau harus berusaha. Kau harus mencoba.

Sebagaimana titik-titik air yang terdapat pada bumi diserap oleh langit dan turun kembali ke bumi dalam bentuk hujan, Allah mengambil apapun yang kau miliki dan mengembalikannya kembali padamu. Sifat-sifat apapun yang kau miliki akan kembali padamu. Jika kau mengumpulkan sifat-sifat neraka, itulah yang akan kau dapatkan kembali. Tapi, cucu-cucuku, jika kau mengumpulkan sifat-sifat surga, kau akan meraih surga. Jika kau mengumpulkan kebijaksanaan, semua sifat-sifat baik di dalam dirimu dan bertingkah laku dengan baik, Allah akan membuat sifat-sifat tersebut menjadi jauh lebih indah lagi dengan cahaya-Nya. Dia akan merubah sifat-sifat tersebut menuju kemerdekaan bagi sang jiwa dan membuat hujan turun membasahi dirimu. Allah akan mengambil apa yang kau miliki dan merubahnya menjadi sesuatu yang jauh lebih baik, sesuatu yang jauh lebih bernilai. Dia akan membuatnya sempurna dan mengembalikannya padamu.

Allah itu ada. Dia ada dimanapun, tapi kau harus menggali ke dalam dirimu dan menemukan Dia di sana. Segala tindakan-Nya harus hadir pada dirimu. Baru kemudian kau akan meraih khazanah rahmat. Untuk itu, anak-anak, jangan berpikir, “Allah akan melakukannya. Allah akan menyediakannya.” Merupakan suatu kesalahan tatkala menatap langit dan berpikir, “Aku tidak perlu melakukan apapun. Hujan akan datang dengan sendirinya.” Tidak ada manfaatnya bersikap seperti itu.

Cintaku, cucu-cucuku. Pikirkan baik-baik. Pikirkan tentang tugas yang harus kau lakukan. Jangan kau tatap langit, tataplah ke dalam dirimu. Semuanya ada di dalam dirimu, sebagaimana air terdapat di dalam tanah. Cintaku, cucu-cucuku. Kau harus memahami hal ini.

Diterjemahkan oleh sahabat Dimas Tandayu dari:
“Gazing at the Sky Will Never Quench Your Thirst”
Come to the Secret Garden: Sufi Tales of Wisdom
Written By M. R. Bawa Muhaiyaddeen

Enam Perkara Yang Mengepung Manusia


“Enam Perkara Yang Mengepung Manusia,” agar kita dapat berhati-hati terhadapnya.

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. berkata:

“Sesungguhnya:

  1. Iblis selalu berdiri di hadapanmu;

  2. Hawa nafsu amarah selalu berada di kananmu;

  3. Ambisi berada di sebelah kirimu;

  4. Dunia selalu berada di belakangmu;

  5. Anggota tubuhmu ada di sekelilingmu; dan

  6. Allah Yang Maha Perkasa ada di atasmu.

  • Iblis la’natullaah ‘alaih mengajakmu untuk meninggalkan agama.

  • Hawa nafsu amarah mengajakmu untuk melakukan kemaksiatan.

  • Ambisi mendorongmu untuk memuaskan keinginannya.

  • Dunia mendorongmu untuk mementingkan urusan dunia daripada akhirat.

  • Anggota tubuhmu senantiasa mengajakmu untuk berbuat dosa.

  • Sementara Allah Yang Maha Perkasa mengajakmu untuk meraih surga dan ampunan-Nya.

Sebagaimana friman-Nya: “Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan seizin-Nya.”

{QS. 2/Al-Baqoroh]: 221.

  • Barangsiapa memenuhi panggilan iblis, maka hilanglah agamanya.

  • Barangsiapa memenuhi panggilan hawa nafsu, maka hilanglah akhiratnya.

  • Barangsiapa memenuhi keinginan ambisinya, maka hilanglah ruhnya.

  • Barangsiapa memenuhi bujukan dunia, maka hilanglah akhiratnya.

  • Barangsiapa memenuhi keinginan anggota tubuhnya, maka hilanglah surga darinya.

  • Barangsiapa memenuhi panggilan Allah, maka hilanglah kejel;ekan dirinya dan dia akan memperoleh segala kebaikan.

Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Rosulullaah Saw. bersabda:

“Allah telah membuat perumpamaan berupa sebuah jalan yang lurus (lorong). Di kedua sisi jalan itu ada dinding yang padanya terdapat beberapa pintu yang terbuka. Pada pintu-pintu itu terdapat tirai yang dilabuhkan. Sementara di atas pintu gerbang jalan tersebut ada penyeru yang berkata: ‘Wahai manusia, laluilah jalan ini sampai ke ujung dan janganlah engkau berbelok-belok.’ ementara itu ada lagi penyeru lain di atas jalan tersebut dan berkata ketika manusia bermaksud hendak membuka salah satu dari pintu-pintu itu: ‘Celaka, jangan engkau membukanya, sebab bila engkau membukanya, engkau pasti akan terperosok masuk ke dalamnya.’

(Jalan di sini maksudnya adalah Islam; dinding maksudnya hukum-hukum Allah; pintu-pintu yang terbuka maksudnya hal-hal yang diharamkan Allah; penyeru di atas pintu gerbang maksudnya Al-Qur’an; sedangkan penyeru di atas jalan maksudnya adalah nasihat dari Allah yang ada di dalam hati setiap Muslim.”

[HR. Ahmad dan Muslim].

Rosulullaah Saw. juga bersabda:

“Tiada seorang hamba, kecuali dirinya telah mempunyai dua buah rumah; satu rumah berada di surga dan satu lagi berada di neraka. Seorang mu’min akan membangun rumahnya di surga dan merubuhkan rumahnya yang ada di neraka. Adapun orang kafir, dia merubuhkan rumahnya yang ada di surga dan membangun rumahnya yang di neraka.” [HR. Ad-Dailani].

Lalu Rosulullaah Saw. menambahkan:

“Seorang (ahli surga) tidak akan masuk surga, kecuali setelah diperlihatkan kepadanya (saat di alam kubur) tempatnya di neraka jika dahulunya dia berbuat keburukan (kufur). hal ini dimaksudkan agar ia semakin bertambah rasa syukurnya (kepada Allah). Sedang seorang ahli neraka tidak akan masuk neraka, kecuali setelah diperlihatkan kepadanya tempatnya di surga jika saja dahulunya dia berbuat kebaikan (memeluk Islam). Hal ini dimaksudkan aar bertambah penyesalannya.”

[HR. Bukhori].

Dalam sabdanya yang lain Rosulullaah Saw mengingatkan bahwa:

“Barangsiapa mengambil dunia dengan cara yang halal, maka Allah pasti akan menghisabnya. Barangsiapa mengambil dunia dengan cara yang haram, maka Allah pasti akan menyiksanya.” [HR. Hakim].

dikutip dari mailist sahabat Mba Hesti Anshor